Perlu untuk dibaca

Rabu, 02 Desember 2020

PENGASUHAN ANAK DIGITAL LEWAT JALUR DOA

 (Teori Pengasuhan Anak pada Era Digital)




Mengasuh anak di era digital seperti sekarang ini, bisa dikatakan gampang-gampang sulit. Semua bergantung dari seberapa bijak kita menyikapi keadaan zaman.
Menjadi tantangan tersendiri ketika kita dibenturkan langsung dengan masalah yang berkaitan dengan anak dan dunia digital.
Ambil contoh kecanduan game online. Anak yang sudah positif jadi pecandu game, pasti akan menunjukan perubahan sikap dan perilaku yang menurut kita buruk. Kalau sudah begini, siapa yang harus disalahkan? Kita sebagai orang tuanya, anak itu sendiri atau kesalahan zaman (era digital)? Hem, hampir semua bersalah namun tidaklah bijak, pabila kita menuduhkan kesalahan pada salah satu faktor, bukan?

Lalu sebegitu sulitkah tantangan yang harus dihadapi orangtua saat proses pengasuhan? Sebegitu beratkah tanggungjawab yang dipikul atas apa yang terjadi pada anak?
Semua adalah berasal dari mindset kita, cara pandang dan penyikapan kita dalam mengarungi era digital seperti sekarang ini.

satu hal mendasar yang sederhana namun berpengaruh besar atas apa yang terjadi pada anak. Hal itu adalah doa.
Doa yang tulus kita rapalkan pada anak.
Doa yang selalu kita gaungkan demi kebaikan masa depan anak.
Doa yang tak pernah putus dan mengiringi sepanjang jalan kehidupan anak.
Ya, doa adalah harapan. Tanpa dipinta, tiap orangtua pasti mendoakan kebaikan untuk anaknya. Jika ada doa-doa buruk yang terucap, percayalah, itu pasti lepas kontrol-disinilah pentingnya untuk dapat memanajemen emosi-agar mampu mengontrol diri dan emosi.

Seperti halnya ilmu bonding/kedekatan antara orangtua dan anak (yang terikat batin dengan baik) lantaran sebab komunikasi yang intens di waktu yang tepat.
Seperti itu jualah ilmu doa, tak kasat mata namun bisa dirasakan, lantaran- anggaplah 'komunikasi' kita dihadapan Sang Pencipta (dalam doa).

Agama menganjurkan berdoa. Bila kita dapat memahami, doa itu sebenarnya adalah anjuran positif yang mengandung jawaban atas segala permasalahan hidup-salah satunya yaitu permasalahan pengasuhan anak pada era sekarang.
Jadi dalam proses pengasuhan dan pendampingan yang kita jalani utamakan berdoa, doa dan doakan anak. Karena doa-doa yang diucap akan "on the way" di saat yang tepat.
Doa-doa itu akan menjadi penyebab kesuksesan pengasuhan orangtua.
Doa-doa itu akan menjadi penyebab keindahan budi anak.
Doa-doa itu akan menjadi penyebab terjaganya anak dari hal-hal negatif. Dengan catatan harus diiringi dengan usaha nyata yang kita lakukan pada anak seperti pembelajaran, pembiasaan, pendampingan, keteladanan dan lain sebagainya yang tentunya harus kita sesuaikan dengan tahapan perkembangan anak itu sendiri.

Terlepas dari jaminan kapan doa akan terkabul, kita sebagai hamba Tuhan sekaligus orangtua hanya mampu sebatas berdoa dan berusaha. Hasilnya tetap menjadi hak prerogatif Tuhan.

Yang harus selalu kita mantapkan adalah keyakinan, pikiran positif, prasangka baik pada Tuhan dan melakukan usaha/tindakan nyata.
Akhir kata manusia memang lemah, hanya peranan Tuhan yang mampu membuat kita mampu melewati hidup hingga hari ini. Maka, doa adalah senjata yang kita punya.

Wassalam ....

Selasa, 13 Oktober 2020

KITAB KUNING

oleh Kunti Zakiyah  

latepost --powered at 31 Januari 2019


Nahdatul Ulama (NU) identik dengan kitab kuning, Kitab kuning sendiri ditulis dalam bahasa arab tanpa diberi harakat atau gundulan yang kemudian dalam proses penyampaiannya dimaknai dengan bahasa pegon atau Arab Melayu.

Perlu proses pembelajaran agar kita mampu membaca kitab kuning, antara lain dengan belajar ilmu Nahwu dan Sorof mulai dari dasar hingga ke profesional.

Kitab kuning sendiri dijadikan bahan kajian dan diajarkan di pesantren-pesantren berbasis NU. Orang-orang yang yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren, ataupun kajian ala pesantren pasti sudah tak asing lagi dengan kitab kuning. Kitab yang berisi keilmuan, terutama bidang agama.

Mengapa menggunakan kitab kuning? karena dalam rangka kehati-hatian agar pemahaman agama yang kita pelajari tidak melenceng, pun hal tersebut merupakan tradisi intelektual NU yang berpegangan pada sanad.

Berbeda dengan pembelajaran di lembaga-lembaga lain yang hanya bersandar pada Al Quran dan Hadis semata, pun kebanyakan Al Quran dan Hadis yang dipergunakan merupakan terjemahan. Sehingga hasil belajarnya terdoktrin dari materi atau guru yang menyampaikan.

Apalagi di era digital saat ini, orang-orang lebih suka mencari praktisnya dengan mempelajari keilmuan (agama) melalui mesin pencari. Tak dipungkiri memang, ada begitu banyak artikel yang bertema agama namun apakah bisa dipertanggungjawabkan sanad keilmuannya? Ada yang iya ada yang tidak, namun hal tersebut tentu bukanlah solusi terbaik bagi para pencari ilmu, bukan?


Kitab kuning memiliki ciri khasnya sendiri, adapun disebut kitab kuning, karena memang kebanyakan menggunakan kertas berwarna kuning. Pada hakekatnya kitab kuning hanyalah sebuah istilah saja. Adapun bentuknya tidak jauh berbeda dari buku-buku kebanyakan.

Tradisi intelektual NU yang termaktub dalam kitab kuning berisi beragam keilmuan. Adapun kitab-kitab tersebut terdiri dari beragam kajian-kajian keilmuan, sebagaimana seperti Tasawuf, Fiqih, Tafsir, Tharikh, Nahwu, Sarof, Balaghah dan lain-lain. 

Keilmuan yang tercantum dalam kitab-kitab kuning tersebut pun ada yang berisi hadis Rasullah, hukum fiqih hasil ijtihad para ulama maupun pembahasn ilmiah para ulama yang kesemuanya bersanad pada Al Quran, Hadis dan tentunya  ajaran salafus saleh.

Contoh dari kitab berisi tentang akhlak seperti Ta'lim Mutaalim, akhlak al Bhanat dan lain sebagainya. Contoh dari kitab yang berisi hadis Rasulullas saw adalah kitab Shahih al Bukhari, Sahih Muslim dan sejenisnya

Adapun sebagai warga NU kita harus bangga dan dapat menjadikan kitab-kitab kuning sebagai suatu rujukan keilmuan. Mengenalkan kepada para generasi muda. Mampu menepis klaim-klaim buruk dan tuduhan miring tentang kitab kuning sebagai karya cipta ulama yang menyelisihi Rasullah saw yang biasanya kemudian akan dijadikan senjata untuk melemahkan dan menghina pemahaman agama dari warga NU. 

Sejatinya kita sangat perlu memperluas dan memperdalam ilmu agama pun ilmu ke-NU-an agar jiwa, hati, dan iman kita selalu stabil. Tidak tergerus zaman dan memiliki pendirian dan pemahaman agama yang kuat.

Jika kita telisik lebih jauh semua keilmuan baik itu urusan akhirat maupun duniawi semuanya telah tertuang dalam betagam kitab kuning. Tinggal tugas kita untuk mempelajari, mengamalkan dan melestarikan tradisi intelektual NU yang telah turun temurun ini.


#NU93Berkhidmah

#amaliyahNU