Perlu untuk dibaca

Selasa, 13 Oktober 2020

KITAB KUNING

oleh Kunti Zakiyah  

latepost --powered at 31 Januari 2019


Nahdatul Ulama (NU) identik dengan kitab kuning, Kitab kuning sendiri ditulis dalam bahasa arab tanpa diberi harakat atau gundulan yang kemudian dalam proses penyampaiannya dimaknai dengan bahasa pegon atau Arab Melayu.

Perlu proses pembelajaran agar kita mampu membaca kitab kuning, antara lain dengan belajar ilmu Nahwu dan Sorof mulai dari dasar hingga ke profesional.

Kitab kuning sendiri dijadikan bahan kajian dan diajarkan di pesantren-pesantren berbasis NU. Orang-orang yang yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren, ataupun kajian ala pesantren pasti sudah tak asing lagi dengan kitab kuning. Kitab yang berisi keilmuan, terutama bidang agama.

Mengapa menggunakan kitab kuning? karena dalam rangka kehati-hatian agar pemahaman agama yang kita pelajari tidak melenceng, pun hal tersebut merupakan tradisi intelektual NU yang berpegangan pada sanad.

Berbeda dengan pembelajaran di lembaga-lembaga lain yang hanya bersandar pada Al Quran dan Hadis semata, pun kebanyakan Al Quran dan Hadis yang dipergunakan merupakan terjemahan. Sehingga hasil belajarnya terdoktrin dari materi atau guru yang menyampaikan.

Apalagi di era digital saat ini, orang-orang lebih suka mencari praktisnya dengan mempelajari keilmuan (agama) melalui mesin pencari. Tak dipungkiri memang, ada begitu banyak artikel yang bertema agama namun apakah bisa dipertanggungjawabkan sanad keilmuannya? Ada yang iya ada yang tidak, namun hal tersebut tentu bukanlah solusi terbaik bagi para pencari ilmu, bukan?


Kitab kuning memiliki ciri khasnya sendiri, adapun disebut kitab kuning, karena memang kebanyakan menggunakan kertas berwarna kuning. Pada hakekatnya kitab kuning hanyalah sebuah istilah saja. Adapun bentuknya tidak jauh berbeda dari buku-buku kebanyakan.

Tradisi intelektual NU yang termaktub dalam kitab kuning berisi beragam keilmuan. Adapun kitab-kitab tersebut terdiri dari beragam kajian-kajian keilmuan, sebagaimana seperti Tasawuf, Fiqih, Tafsir, Tharikh, Nahwu, Sarof, Balaghah dan lain-lain. 

Keilmuan yang tercantum dalam kitab-kitab kuning tersebut pun ada yang berisi hadis Rasullah, hukum fiqih hasil ijtihad para ulama maupun pembahasn ilmiah para ulama yang kesemuanya bersanad pada Al Quran, Hadis dan tentunya  ajaran salafus saleh.

Contoh dari kitab berisi tentang akhlak seperti Ta'lim Mutaalim, akhlak al Bhanat dan lain sebagainya. Contoh dari kitab yang berisi hadis Rasulullas saw adalah kitab Shahih al Bukhari, Sahih Muslim dan sejenisnya

Adapun sebagai warga NU kita harus bangga dan dapat menjadikan kitab-kitab kuning sebagai suatu rujukan keilmuan. Mengenalkan kepada para generasi muda. Mampu menepis klaim-klaim buruk dan tuduhan miring tentang kitab kuning sebagai karya cipta ulama yang menyelisihi Rasullah saw yang biasanya kemudian akan dijadikan senjata untuk melemahkan dan menghina pemahaman agama dari warga NU. 

Sejatinya kita sangat perlu memperluas dan memperdalam ilmu agama pun ilmu ke-NU-an agar jiwa, hati, dan iman kita selalu stabil. Tidak tergerus zaman dan memiliki pendirian dan pemahaman agama yang kuat.

Jika kita telisik lebih jauh semua keilmuan baik itu urusan akhirat maupun duniawi semuanya telah tertuang dalam betagam kitab kuning. Tinggal tugas kita untuk mempelajari, mengamalkan dan melestarikan tradisi intelektual NU yang telah turun temurun ini.


#NU93Berkhidmah

#amaliyahNU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Terima kasih telah berkomentar dengan sopan ...."