Perlu untuk dibaca

Minggu, 11 September 2016

EMANG KAU SIAPAKU

Oleh :  Kunti zakiyah




“Hei, Dinda tunggu! Wah.... aku kok dicuekin?!” ucapku lantang dengan rasa parcaya diri yang sempurna. Di jalan menuju area pesantrennya. Aku memang sengaja mencegatnya, dan ini sering kulakukan.

“Apa?!” sepatah kata mengalun dari bibir tipis Dinda.
Aku menyunggingkan senyum lantaran mendengar suaranya. Dari mula, aku sangat ingin mendengar suaranya, walau kadang bernada ketus.
“Emang Kau siapaku?!” suara sinis itu senada dengan tekukan dahinya. Membuatku kembali terjangkiti kecewa.
“....” Aku terkelu—satu kosong

♥♥♥

“Maaf Dinda?! Kok kelihatannya lelah sekali? Jangan begadang! Jangan sering jajan? Diusahakan minum suplemen ya Dinda?!”  
Kali ini kunasehati Dinda sebab kulihat aura kecapaian berpusat di wajahnya. Andai kau tahu, Dinda, kasihan aku melihat keadaanmu saat ini. Lihatlah wajahku, Dinda, sedih akan kondisimu.

“Apa?!” suara ketus Dinda terdengar begitu nyaring.
“Emang Kau siapaku?!” lanjutnya, jurus paten itu mengempaskanku, otomatis aku kalah, kecewa sekali rasanya. Dan terdengar begitu, menyakitkan.

Bahkan ini sudah belasan kali Dinda selalu memenangkan episode-episode pertemuan kami. 

Dan... dia pun berlalu, menuju asrama putri. Menerbangkan rencana-rencana yang telah kususun rapi. Sulit sekali, walau sekedar mengetuk pintu hatinya.

“Walau begitu sulit aku menggapai hatimu, Dinda, aku akan terus berusaha. Aku tak mau menyerah kendati kau, Dinda, selalu mengacuhkanku. Aku akan tetap setia menunggu lumernya hatimu meski tsunami akan mengguncang segala rencana dan caraku menggapaimu.”

♥♥♥

“Maaf Dinda?! Kapan Dinda ada waktu?! Aku ingin bicara sesuatu Dinda?” Kulontarkan permohonan setelah berhasil mencegatnya di depan gerbang pesantren—ketika dia hendak berangkat kuliah.

“Apa?! Emang Kau siapaku?!” terkaku.  

Tapi, kali ini bibirnya terkatup. 

Ah... tetap saja, Dinda masih memandangku dengan angkuh—ekspresi yang selalu dia suguhkan padaku.
Dia bergeming, apa mungkin karena statusku yang bukan santri sepertinya? 
Hei, begini-bigini aku rajin menseriusi pengajian pesantren melalui pengeras suara. Jelas sekali, karena jarak rumahku hanya sekitar 15 meter dari pesantrennya. 

Kuamati gerak-geriknya, satu, dua menit dia menghentak kaki. 

“Hei Dinda!! Tunggu!” berusaha kujajari langkah lebarnya. Dia begitu cepat, melesat di depanku. 

“Aku suka Kau Dinda...!!!” 

Oh idak, aku lepas kontrol. Malunya aku! Ah... biarlah, sudah terlanjur! 

“Berhenti!” harapku dalam hati. 
Ah, Dinda tak peduli, aku berlari. Dan, berhasil, mencegatnya lagi. 

Apa boleh buat, ini saatnya pengakuan! Diterima atau ditolak akan kurasakan nanti.  “Ak-ku suka Kau Dinda!” kuucap sambil terpejam—pengecut.

“Aku dah tahu!”, “Terlihat sekali sikap Kau yang over itu.”  

Gelegaran ucapan-ucapannya, membuatku seolah tak percaya, “apakah itu benar Kau, Dinda?”
Kau ternyata menyimpan satu tempat atas sikap-sikapku di memorimu. 

“Lalu! Kenapa Kau tak pedulikanku Dinda?!”  
“Apa?! Emang Kau siapaku?!” lagi-lagi Dinda sukses menangkisku. 

Oh... rasanya lunglai, entah kenapa? kali ini kalimat itu menusuk-nusuk hatiku. Rasanya ingin berlari, menuju ketinggian lalu kuteriak—”Dinda!!” 

“Aarrrgghh!” aku geram sekali atas sikap sombongnya. Oke! Kuakui aku memang bukan siapa-siapanya. Kuatur napas dan emosi.

“Iya! Aku bukan siapa-siapamu.” Itu stok kata-kataku yang tersisa—pasrah. 
“Kau tak berhak mengganggu hidupku! Kalau Kau serius cegat ortuku di rumah jangan mencegatku di depan gerbang!” 
Ah... seperti ada tetesan embun yang jatuh tepat di hatiku. ♥♥♥ 


21April2013

BUNGA-BUNGA DI ATAS AIR

Oleh : Kunti Zakiyah


“Hei, apa yang Kau lakukan di sini tiap sore?”
“....”
Tanyaku  menguap. Perempuan semampai, berambut ikal mayang dengan pakaian sederhana itu hanya diam. 
Sejak limabelas menit lampau dia sibuk dengan bunga-bunga apung, tak memedulikanku sedikit pun. Justru dia melesat pergi.
Apa-apaan dia. 
Tak punyakah perasaan? 
Atau, dia tengah mengidap pilu sepertiku?
Dan bodohnya, sampai hari ini, aku belum tahu nama bunga indah merah jambu yang mengapungdi atas air itu. Dan itu bukan teratai, aku yakin.
♥♥♥
Sore ini, lagi, kukayuh pedal sepeda perlahan. Melewati sawah-sawah basah, perkampungan, pepohonan dengan keadaan jalan yang rusak parah--kurasa ini sebab kerap dilalui truk kelebihan beban. Menuju tempat favorit, sebuah lahan sejuk dengan satu pohon besar, aliran air perbukitan, serta taman-taman air di sisi bangunan tua.
Lagi!
Kujumpai perempuan berambut ikal mayang tengah sibuk dengan bunga-bunga di atas air itu. 
Hampir dua mingguan ini aku melihatnya dan selama itu pula,  kuhabiskan sore dengan monoton—tanpa obrolan atau sekadar bertatap muka. Bahkan melihat wajahnya pun belum pernah—ya, dia selalu memunggungiku.

“Hei, apa yang sedang Kau lakukan?” cetusku hambar.
Tak ada suara hingga menit kedua.
“Aku bertanya padamu,” lanjutku.
Lagi!
Dia melesat pergi.
Kurasa, dia perempuan kuper yang tidak punya sopan santun.
Siapa perempuan itu? Mengapa baru belakangan ini aku menjumpainya dengan bunga-bunga yang belum kuketahui namanya? Hei mengapa tadi tak kutanya siapa namanya?
Ah, mengapa baru terpikir olehku?
Tak penting bagiku!
♥♥♥
Sore ini, hujan mengguyur. Dan kuputuskan untuk menghangatkan tubuh di bawah selimut sembari berbaur di dunia maya.
Kurasa, perempuan itu tak kan menilik bunga-bunga airnya. Hm, siapapun orangnya, pasti akan memilih tidur di bawah selimut hangat daripada berhujan-hujan demi sebuah bunga yang memang hidup di air.
Baru setengah jam berlalu, aku sudah bosan. 
Entah ada apa dengan otakku sehingga bunga-bunga indah itu  bertebaran pada kepala. Lebih tepatnya perempuan berambut ikal mayang nan angkuh itu. Hei, mengapa aku jadi begini? 
Tidak?!
♥♥♥

Sore ini, tak kujumpai perempuan berambut ikal mayang itu. Dan bunga-bunga di atas permukaan air yang sangat indah menyeretku untuk mendekat. 
Benar... ia sangat indah. Variasi putih dan merah mudanya begitu apik, pun tangkai daun yang mencuat jatuh di permukaan air dengan daun berbentuk lebar dan kedap air tertata rapi—sempurna. Pantas saja, perempuan berambut ikal mayang itu, betah berlama-lama memandang.
“Apa nama bunga ini?” 
“Siapa nama perempuan itu?” 
“Mengapa dia tak ada sore ini?” 
“Ke mana dia? 
“Pergikah?” 
“Sibukkah?” 
“Atau sakitkah?” 
“Ah, aku harap, esok sore dapat kujumpai.”

“Kamu sedang apa?” Nada bergetar kudengar agak samar. 
Sangat asing sekali suara itu.
Aku terpana beberapa lama saat menoleh dan langsung terperangkap oleh tatapan sepasang bola mata bulat dengan bulu hitam lentik di kelopaknya.
Dia....
Dia, perempuan berambut ikal mayang itu.  
“Kamu suka Padma juga?” suara asing tadi kudengar lagi.
“Padma..?”
“....”
Hei, sekarang aku tahu nama bunga yang sangat indah itu—Bunga Padma.
“Lotus maksudku, atau... Seroja.”
“Apa...?”
“Ah lupakan! Itu hanya padanan nama.”
“Oh....”
“Padma bunga yang hebat. Kamu tahu sendiri kan, dulu kolam air ini sangat kotor dan berlumpur. Tapi, ia bisa tumbuh meretas kekotoran dengan bunga yang indah, bahkan sangat indah menurutku.”
“....”
“Aku banyak belajar dari Padma.”
“Oh....”
“Mengapa Kamu tak berkomentar, bertanya atau berpendapat?”
“Ehm...,” mendadak, terkelu.
Aku merunduk, tak ada yang bisa aku ungkapkan sepertinya, perbendaharaan kata terkuras habis.
Satu, dua menit aku belum jua berkata-kata.
“Ehm...,” sembari kuangkat kepala perlahan.
Ah, perempuan berambut ikal mayang itu melesat pergi. 
Bodohnya! 
Bahkan aku belum tahu siapa namanya.♥♥♥


KETIKA RINDUKU BUKAN KEPADAMU

Oleh : Kunti Zakiyah

Ketika sosok insan membayang
 dan rindu ini pada seseorang itu...
membuatku tak tenang
mengingat kejadian tak layak kenang
siang malam waktuku tersiakan
pun mendzikiri asmaNya menjadi jarang
sepertiga malam terlewatkan
munajat terganti hayalan2
hingga kian lama kebimbangan datang
kalut tak berdaya
merasa aneh dengan rasa

gelisah tak menentu, hampa menyatu

ketika rinduku bukan kepadaMu
banyak amalan terlalaikan
menjadi hamba yang malang
Ya Robb...
jadikanlah rinduku hanya padaMu


02Sept08

Jumat, 09 September 2016

Terserah Wenna


“Ayo Mas!” ajak Wenna pada seseorang yang sedari setengah jam lalu stand by di atas ‘motor gede.’
Mereka  pun melintasi banyak desa.
“Dek, rumahnya masih jauh?” tanya lelaki itu-Mas Gagas.
“Bentar lagi kok, itu ada janur kuning,” Wenna menunjuk ke arah 200 meter ke depan.
Ini sudah ke-5 kalinya Wenna mengajaknya Mas Gagas ke resepsi pernikahan.
Kapan ya Wenna nikah? tanya Wenna dalam diam.  Seperti Sisri, Tari, Ning, Reni, Siti, Wenna menerawang.

♥♥♥

“Dek Mas ke Jakarta ya?”
“Buat apa? kenapa?”
“Mas mau cari uang, untuk kita nikah Dek.”
“....” Wenna tarharu.
“Setelah uangnya cukup. Mas akan lamar Adek, dan bikin resepsi pernikahan,” imbuh Mas Gagas.
“Tapi...?” Wenna terhanyut, berkaca-kaca.
“Mas akan sering telpon Adek, Mas akan selalu ingat tujuan kita, impian-impian kita.”
Wenna benar-benar terbawa suasana. Mas Gagas yang selalu di dekatnya akan jauh.
“Bagaimana rasanya nanti?” Wenna menatapnya lekat, Wenna takut, Wenna tak mau rindu, Wenna tak mau menunggu, menunggu dan menunggu.
‘Wenna tak mau!’ jerit batin Wenna pilu.

♥♥♥

Wenna memandang iri ke arah Luna, tetangga sekaligus teman sekampusnya. Luna begitu bahagia bersama pujaan hatinya.
“Aku rindu Mas Gagas,” keluh Wenna.
Untuk puluhan ribu menit Wenna memendam rindu, ingin rasanya menjerit dan katakan “Mas Gagas!!!”

Masa itu  Wenna lalui dengan separuh semangat, seakan ada yang hilang. Selalu ingin seperti orang-orang yang leluasa dapat berjumpa dengan yang dicintai.
“Kapan Mas pulang?” pesan itu  Wenna kirim ke ID ‘soulheart’.

♥♥♥

Hingga sepuluh bulan yang menyesakkan berselang, setelah sekian lama menderita kerinduan akhirnya terobati dengan pertemuan. Mas Gagas pulang.
Gagas kembali menjadi tetangga Wenna yang hanya berjarak lima rumah. Kembali bekerja di tempat teman ayah Wenna dan kembali lagi dengan kesibukannya-menjemput Wenna pulang kuliah.

Wenna benar-benar bahagia, tak ada lagi rasa iri pada Luna, tak ada lagi kerinduan.
Hidupnya penuh semangat, selalu memasang gigi empat, Wenna benar-benar menikmati.
Hingga akhirnya, “Apa...?!” Wenna terperanjat kaget tatkala Gagas memberinya dua pilihan.
“Nikah atau kuliah?” Wenna sungguh tak menyangka kalau Gagas memposisikannya pada pilihan sulit.
“Dek, nikah sama Mas! Tapi, berhenti kuliah ya?”
“Kita akan hidup bersama.”
“Biar Adek bisa total ngurus Mas”
Semua kata-kata itu membuat Wenna bimbang.
‘Cita atau cinta?’ tapi, Wenna sangat menginginkan keduanya. Pilihan itu terasa sangat menyesakkan

♥♥♥

“Mana undangannya?” 
“Ciye... yang mau nikah.”
“Wenna, kamu kenapa ga bilang kalo ada rencana nikahan?”
“Kamu pesan bridal di tempatku aja ya!”
Aneka ucapan itu membuat Wenna bingung. Benar-benar heran kenapa teman-teman selalu menodongnya dengan pertanyaan dan pernyataan bertipe nikah.
“Mengapa mereka semua begitu?” Wenna berpikir sejenak, menebak siapa dalang di belakangnya.
“Siapa...?” 
Seketika pandangan Wenna tertumbuk pada Luna yang tengah ber-hot spot-an di bawah mading kampus. Seseorang yang paling pas dicurigai.
“Luna? Kamu....” suara Wenna tertahan, Luna menatap.
“Sorry Wenna, waktu itu Aku emang pernah bilang sama temen sekelasmu, tentang rencana nikahmu. Tapi, Wenna... tapi Aku, gak tahu kenapa bisa jadi seheboh ini.” Suara Luna lirih, lambat dan pelan-Luna menyesal.
Dan Wenna benar-benar stres tatkala gosip itu tidak hanya tersebar di kampus namun, di lingkungan tempatku tinggal pun, topik itu sedang hangat.

♥♥♥ 

“Dek ayo kita nikah! Mas gak enak sama para tetangga, mereka sudah tahu tentang rencana kita.”
“Mas juga gak enak sama ortu.”
“Umur Mas dah 29 Dek.”
“Adek nikah sama Mas ya...!”
Dan Wenna mendelik ketika Mas Gagas sampai pada kalimat, “Mumpung baru semester dua Dek..., tinggalin aja!” 
Wenna hanya diam mendegar semua kalimat-kalimatnya. Sebuah dilema. Antara kuliah atau Mas Gagas?

♥♥♥ 

“Maaf, tapi Adek pengen kuliah,” Wenna berkata berat di hadapan Mas Gagas tatkala waktu telah berselang dua minggu semenjak gosip-gosip itu beredar.
“Maaf....” Wenna menundukan kepala. ♥♥♥   
 


Rabu, VII-XI-MMXI__AdaptedwinaIrsa


Kamis, 08 September 2016

Jan gan-j angan


“Saya terima nikahnya dan kawinnya Semai Bersemi binti Basri dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai.”
“Bagaimana? Sah?”
“Sah…!!” suara-suara  terdengar hampir bersamaan.
“Alhamdulillah…!”

Seseorang menepuk pundakku, memecah semua lamunan pernikahan yang tengah bermain indah dalam kepala.

“Dah hampir nyampe ayo turun!”

Aku mengimitasi gerakannya, berdiri dari kursi penumpang, berjalan perlahan, hingga akhirnya menjejakkan kaki di tepian jalan. Kami pun berpisah kemudian, di pertigaan.

Aku menapaki jalanan yang riang karena deru larian anak-anak kecil yang begitu menggemaskan. Saat itu matahari tak tinggi lagi, bayanganku sudah lebih panjang dari badan.
Aku tengah melangkah pelan tatkala suara seorang ibu mencekatku.
“Mba, kok nyante aja? Itu di rumah kamu rame orang loh!”
Aku celingukan, ekspresi kalut kusuguhkan.
“Ada apa ya Bu emangnya?”
“Ah Mba, cepetan pulang. Kata tetangga sebelah rumah Emba, ada laki-laki yang berniat ngelamar.”
Alisku bertaut, “Ngelamar? Dilamar? Aku dilamar? Siapa?!”
Belum habis pertanyaanku ibu itu sudah menghilang dari pandangan.

♥♥♥


“Kok baru pulang?!” tanya ibu ketika aku sibuk mengganti pakaian kerjaku dengan kebaya warna keemasan.
Ternyata ibu telah mengetahui kepulanganku karena mendengar derit pintu dapur yang kubuka lima menit lalu.
Aku pun tersenyum, yang ada di kepalaku hanya skenario lamaran. Dua tahun lalu adek perempuanku dilamar mendadak, sekarang aku pun juga dilamar mendadak. Ah... senangnya. Akhirnya bidadara datang juga, aku terkekeh dalam pikiran.

“Kamu yakin pakai baju itu?!”
“Kan aku mau dilamar Ibu?! Iya kan?!” aku masih tersenyum riang.

“Tiap orang punya jalan cerita sendiri, masak iya?! Empat anak perawan Ibu dilamar mendadak semua?!”

“Maksudnya?”
Aku menghentikan aktivitas. Menoleh ke arah ibu yang ternyata tengah bersama adek keduaku—dia berpakaian kebaya.
“Jangan-jangan?!Aku salah terka?! Oh....”
Aku terduduk lesu di ujung ranjang.

♥♥♥

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Semai Bersemi binti Basri dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai.”

Seseorang menepuk pundakku, menumpahkan semua episode pernikahan yang sedang bergulir indah dalam khayalan.

“Semai?! Enam bulan lagi aku merid....”

“Ha!!”

Aku tak bisa berkata apa pun, kini aku sendiri lagi, dia satu-satunya teman yang jomblo akurat dengan usia yang sebaya—telah dijemput pangerannya.

Kapan giliranku? Tiga puluh tahun! Tak muda lagi. Sepantasnya sudah menimang satu anak lah atau bahkan dua anak. Tapi aku? Masih saja menjalani hidup yang monoton—cerita yang berbeda dengan saudara-saudara kandungku, umur 22 ibu nikah, umur 25 adek pertamaku nikah, sekarang giliran adek keduaku 24 akan menikah, aku?!
Ah, pikiran-pikiran negatif itu mengapa tak mau lepas dari otak.

“Mai! Semai!”

Dan temanku itu menepuk pundakku, menghamburkan semua pikiran kalut bin jelek.

“Dah hampir sampe Mai! Tapi....”
 Penglihatannya terlempar keluar, memandang keruh rinai hujan.

“Ayo turun!!” aku menyeru.
Kali ini dia mengimitasi gerakku, berdiri dari kursi penumpang, berjalan perlahan, hingga akhirnya menjejakkan kaki di tepian jalan.
Kami tak berpisah, melainkan berteduh di masjid besar pertigaan—berteduh.
_____

Kami baru menapaki pelataran masjid ketika mataku menjerat seorang pemuda mencurigakan, berjalan mengendap menuju kotak amal.
“Hei, jangan-jangan?”

Kukode teman di sebelahku—mencoletnya. Pun kami mengamati detail gerak langkahnya.

“Hei, mau ngapain?!”

Pemuda itu terkesiap, menoleh ke arah kami dengan roman syok.

“Oh, ga ngapa-ngapain Mba.”
“Kok?!” temanku mulai menginterogasi.
“Cuma, Cuma...?”
“Cuma apa?!”
“Cuma sedekah Mba, benar!”
“Sedekah?! Mengendap-endap?” “Hah?!”

Ekor mataku tertuju pada kotak ukuran besar transparan, sembari mendengar obrolan mereka. Aku melongo, ketika menangkap uang warna kemerahan.
“Sepuluh ribu atau seratus ribukah?”

“Aih, itu, seratus ribu.”

“Maksud saya biar ga ada yang tau, itu aja Mba.” Suara pemuda itu melemah, lalu merundukkan kepala.

“Kamu sedekah segitu banyaknya?!” aku turut bersuara.

Pemuda itu mengangguk, “Doakan saya Mba, biar cepat dapat jodoh! Dan hanya itu cara yang bisa saya lakukan.”
Kami mengoper pandang. Aku heran, bingung sekaligus kagum.

♥♥♥

Aku tengah melangkah malas tatkala suara seorang ibu muda mengagetkanku.
“Mba ada pemuda tampan di rumah Mba. Kayaknya ada yang mau di lamar nih?!” ibu muda itu menggodaku.
Kubalas kalimat itu dengan sepotong senyum termanis.

Ya, Kali ini aku tak akan cepat besar rasa, karena ujung-ujungnya selalu kecewa. Paling-paling adek ketigaku yang akan dilamar.
Ah, lama-lama predikat perawan tua tak sanggup lagi ku pikul. Bisa-bisa benteng kecuekan rubuh karena: pikiran-pikiran tak mutu selalu menggelantung bak kutu, bisik-bisik tetangga kian lama berevolusi menjadi berisik.

“Sabar! Sabar!”

Aku berjalan melipir lewat samping rumah, mengintip siapa pemuda yang tengah bertandang.

“Hah!!”

Seketika denyut jantungku seakan terkena asma—tersengal-sengal.

“Mimpikah aku?Pemuda itu yang sedekah di masjid dulu?” “Jangan-jangan,” tanpa kusadari pipiku bersemu merah, dan desiran dada terasa lain dari biasanya.

Aku bergegas ke tujuan,  membuka pintu belakang yang menimbulkan derit khas. Menuju kamar ukuran empat kali enam. Mengganti pakaian kerja dengan kebaya warna keemasan.

“Sudah pulang Mba?!” kali ini suara adek ketigaku terdengar.
Kutolehkan kepala dan mendapatinya berpakaian kebaya.
“Ah, jangan-jangan...?”
“Aku..., aku salah terka?!”♥♥♥


Kepingan tentang Dia*

Oleh: kunti zakiyah



Aku merasa iri pada seorang wanita. 


Wanita yang mana? Siapa? 


Tentu saja pada dia! Sesosok wanita penginspirasi hidup, dia wanita yang cantik, berhati lembut, penyayang, saleha, penyabar, begitu sempurna.


Misalnya, apa yang pernah dia lakukan?!


Hm, tak perlu kau tanya tentang ‘misalnya’, tentu saja jibunan contoh dapat kusuguhkan. Dan akhirnya kau pun akan turut mengaguminya! 


Bayangkanlah! 

Dengan orang lain saja dia baik sekali apalagi dengan keluarganya sendiri. Bahkan karena kebaikan yang selalu dia ditaburkan, orang lain pun jadi sangat menyayangi dan menghormatinya.

Pun wanita itu sanggup mengurusi empat orang anak yang keras kepala. Bak bidadari penenang kalbu dia mampu membelai lembut jiwa-jiwa yang rapuh dan sayup. Pula seperti pijaran cahaya dalam gulita, dia mengispirasi hati yang terlumuri karat. Pun serupa hadiah terindah yang siapa pun jika mendapatkannya akan tersenyum senang. Ya, dia mampu membuat orang-orang di sekitarnya bahagia.


Kau tahu?!

Dia juga yang selalu menyemangatiku, tatkala aku gundah dan sendu. 

Misalnya, ketika momen perpindahan statusku dari SMA ke Perguruan Tinggi, saat-saat labilku itu dia selalu mengoarkan motivasi dosis tinggi, membimbingku seakan dia pernah mengalami masa itu dan hasilnya, kau bisa lihat aku kan sekarang?! Alhamdulillah, aku lulus kuliah tepat waktu dengan predikat cumlaude.^_^ 


Kau tahu?!

Dia yang selalu menyairkan doa-doa agar keberuntungan berpihak padaku, tanpa kuminta!


Kau tahu?!

Dan lagi-lagi selalu dia yang menampung ‘sampah’ dariku, membantuku waktu ‘badai’ menerpa, menolongku saat pilu merajam—tanpa pamrih!


Kau sudah tahu kan simpulannya? 

Ya! Dia wanita yang cantik luar dalam.


Ah, ingin sekali bisa saperti dia.


♥♥♥


“Ngelamunin apa hayo?!” 

Ah, dia membuatku kaget saja. 


“Ngelamunin apa?” 


Apa aku harus jujur bahwa sesungguhnya aku tengah memikirkannya? Aku rasa tak perlu! Dia kan tidak suka dipuji.


“Mikirin apa?!”


“Ah, ini! Lagi... ” aku terkelu. 


Aih, dia tersenyum, cantik sekali. 


Cantik?! 

Ya, walau dia telah berusia hampir setengah abad namun, gigi-giginya masih tertata apik, guratan di wajahnya pun tersamarkan senyum yang selalu mengembang, kulit kuning langsatnya masih terlihat cerah dan kenyal. Dandanannya sangat anggun dengan jilbab lebar yang terjuntai menutupi punggung. Aku paling  suka melihat tersenyumnya, menentramkan hingga ke relung. Ah, ingin sekali bisa saperti dia.


Siapa dia?!


Dia?! 


Tentu saja dia seseorang wanita mulia. Wanita penginspirasi yang selalu membawa kesejukan serupa tetes embun. Wanita tangguh yang selalu menyembunyikan luka di balik senyum.

Dia pahlawan sejati dalam hidupku yang telah mensejarah, dalam hidupku yang tengah berjalan, dan dalam hidupku di masa depan. 

Dia manusia berhati malaikat yang memiliki kesabaran seluas altar samudra. Ah, tidak, lebih pantasnya dia ibuku yang kesabaran dan kasih sayangnya sepanjang zaman—tak terbatas!

Dia bidadari dunia, yang selalu mencintaiku dan merengkuhku dengan hangat—yang tak memandang apa pun dan bagaimana pun aku.


Dan dia! 


Tentu saja dia yang telah melahirkanku ke dunia bersama tetes-tetes airmata dan darah kesakitan. Yang secara takdir menstatuskanku menjadi anak sulung dari empat bersaudara. 


Semua  aku dapatkan.


Ah, apa aku jujur saja, bahwa sesungguhnya aku tengah memikirkannya? Aku rasa perlu! Agar dia merekahkan senyum lebarnya.


“Aku memikirkanmu!!” 

“Aku mencintaimu Mak!” ♥♥♥

Selasa, 30 Agustus 2016

cerpen...KITA YANG (dulu) BERHATI BAIK


KITA YANG (dulu) BERHATI BAIK
Oleh: Kunti Zakiyah




Ahad, 14 hari setelah 30 Agustus 2015.

Yuy, tanpa sengaja kutemukan surat tertanggal 30 Agustus 2007-surat bermutu kelas teri yang tak tersampaikan padamu sesuai waktunya. Senyum aneh, geli serta decakan 'ck... ck... ck...' mem-background-i pembacaan ulang--maafkan aku yang dulu  tak berdaya, berupaya memberikan--kini kusampaikan padamu.

Tak terasa 2007-2015 itu berlalu-berjalan begitu cepat-kelesatannya tampak lebih laju dari yang kita kira (menurutku sih). Entah telah berapa ribu hari, jutaan jam, milyaran detik, kita, tak sua. Aku tak tahu mengapa hal ini bisa terjadi, tapi, percayalah Yuy, Kau selalu teranggap sebagai Yuyku dan aku, aku masih Cunti yang dulu. Meski kini telah kupunyai teman hidup, Kau masih tetap teman dalam kehidupanku yang statusnya melebihi dari teman seakrab apapun.

Come on... hug me. I miss it.

"Cun, ke kantin yuk!" panas terik pada rangkaian istirahat sesi ke-2, kau mengajakku, "laper..." lanjutmu.
"Uang jajanku habis Yuy," jujurku.
Kau hanya tersenyum, tetap ceria, "aduh kenapa kita sama-sama lagi bokek ya? Uangku juga tinggal segini," Kau membuka lipatan uang kertas lusuh seribuan.
"Ayo cap cus! Kita beli bareng, kita makan bareng!"
"Hem...," aku tersenyum kecut.
Rangkaian kisah selanjutnya aku agak lupa--yang kuingat itu ending-nya--kita, makan gorengan bareng di teras kelas XI IS 2 (itu loh, kelas yang dinamai Dion, PLUTO, inget kan? 'Dion?' Iya Dion... Syarifudin, inget? Dion sekarang gimana kabarnya ya? Loh kok jadi ngomongin Dion?)

Well  Yuy, penggalan sejarah yang bejibun tentangmu masih ada kok dii sudut-sudut hatiku bahkan yang terdalam. Semoga saja tidak tersudut kian jauh.
Pula waktu Kau melantunkan mars namaku--"Cunti... Cunti... Cunti... 2X" haha... aku masih ingat betul nadanya, dasar lu! Kelewat kreativ. Walau yang kenal mars itu hanya segerombolan remaja puber selengekan tapi, thanks, itu telah menjadi jajaran kenangan indah.

Okey, ada Eny, Tita, Tris, Peklian, Kau dan aku yang terangkai dalam big family gank pembuat onar, sering bernilai kacau, kerap nyontek MTK, hobi ngeblok tempat duduk hingga langganan membuat Bu Sosio marah gegara perbuatan menyebalkan kita. Oh My God, sesungguhnya aku menyesal dengan tingkah yang ini.

Juga ingatkah kala kita saling berpelukan dengan buliran airmata sepulang sekolah di dalam kelas yang telah lengang, hanya karena harus remidi Sosiologi--ketika rata-rata teman sekelas kita dapat nilai memuaskan justru nilai Kau dan aku jauh dari batas bawah, benar-benar memalukan.
Seharusnya gank kita mengusung nilai-nilai luhur, norma, agama dan budi pekerti yang baik, bukannya suka ngedawet di kantin pojok saat mapel akuntansi-nya Pak Tondo, biang kekotoran dindin-meja-kursi kelas, huft... Astaghfirulloh.... Ini aib kelabu yang tak seharusnya dilakukan gadis remaja seimut kita, bukan?

Oh ya, bagaimana kabarnya Tris dan Lian? Aku hanya sekali dua bertemu mereka, itupun lewat mimpi (what? Mimpi?) dalam kehidupan nyata aku hanya dapat mengkoneksi Eny Beatrix dengan segudang kesibukan kerja kuliahnya dan Pratita yang sekarang  dah jadi guru BimBa AIUEO, dikaruniai seorang putra cakep yang menggemaskan, hem....

"Semoga teman-teman kita selalu dalam lindunganNya dan diliputi bahagia, amiin...."

And then... ketika gank kita pecah kongsi, gara-gara apa ya? aku lupa-lupa ingat, apa, karena persoalan antara Tris, Lian dan Tita itu ya?
Ah sudahlah!
Lupakan!
Apapun behind the scene-nya ada hikmah indah bagi kita berdua.
Tunggu...!
Apakah proses keinsyafan kita waktu itu karena keretakan gank atau karena kakak kelas bertas kuning dengan julukan Bembi? mungkin salah satu, mungkin pula keduanya. Namun yang paling pasti adalah karena hidayahNya, kan?

Finally, aku menyusulmu berjilbab em... lebih betulnya berkerudung beberapa bulan kemudian. Mengganti semua seragam sekolah dengan segala atribut muslimah. Lalu... semua ulasan dalam surat edisi 30 Agustus 2007 silam itu terjadi. Aku merasa seolah power ranger-berubah-haha...(Kau juga gak sih?).

Aku bahkan hampir tak percaya ketika SMA pernah menjadi alim, menjaga wudu, salat duha pada istirahat pertama, duhur jamaah pada istirahat kedua, mengkaji agama dengan teman kita yang pandai mengaji, konsentrasi full saat Pak PAI mengajar dengan metode ceramah, sering senyum, berlomba baik-baikan... ah... sungguh indah, ya? Nah, bagian yang ini, kenangan terindah ini kuharap kau tak berniat dan tak hendak menyimpannya dalam laci kenangan yang dikunci rapat lalu kuncinya dilempar nun jauh sekali, jangan Yuy! Jangan!!
Ingatlah bagian kenangan ini-saja-gakpapa. Kita yang dulu berhati baik, sebagai cerminan bahwa hari ini dan esok jangan lebih buruk dari hari kemarin (walaupun antara 2007-2015 belum begitu kenyataannya).
Wallohhu'alam....


Salam rindu sekali
Ttd.
Ur old  bestfriend in SMANSAKU