“Hei, Dinda tunggu! Wah.... aku kok dicuekin?!” ucapku lantang dengan rasa parcaya diri yang sempurna. Di jalan menuju area pesantrennya. Aku memang sengaja mencegatnya, dan ini sering kulakukan.
“Apa?!” sepatah kata mengalun dari bibir tipis Dinda.
Aku menyunggingkan senyum lantaran mendengar suaranya. Dari mula, aku sangat ingin mendengar suaranya, walau kadang bernada ketus.
“Emang Kau siapaku?!” suara sinis itu senada dengan tekukan dahinya. Membuatku kembali terjangkiti kecewa.
“....” Aku terkelu—satu kosong
♥♥♥
“Maaf Dinda?! Kok kelihatannya lelah sekali? Jangan begadang! Jangan sering jajan? Diusahakan minum suplemen ya Dinda?!”
Kali ini kunasehati Dinda sebab kulihat aura kecapaian berpusat di wajahnya. Andai kau tahu, Dinda, kasihan aku melihat keadaanmu saat ini. Lihatlah wajahku, Dinda, sedih akan kondisimu.
“Apa?!” suara ketus Dinda terdengar begitu nyaring.
“Emang Kau siapaku?!” lanjutnya, jurus paten itu mengempaskanku, otomatis aku kalah, kecewa sekali rasanya. Dan terdengar begitu, menyakitkan.
Bahkan ini sudah belasan kali Dinda selalu memenangkan episode-episode pertemuan kami.
Dan... dia pun berlalu, menuju asrama putri. Menerbangkan rencana-rencana yang telah kususun rapi. Sulit sekali, walau sekedar mengetuk pintu hatinya.
“Walau begitu sulit aku menggapai hatimu, Dinda, aku akan terus berusaha. Aku tak mau menyerah kendati kau, Dinda, selalu mengacuhkanku. Aku akan tetap setia menunggu lumernya hatimu meski tsunami akan mengguncang segala rencana dan caraku menggapaimu.”
♥♥♥
“Maaf Dinda?! Kapan Dinda ada waktu?! Aku ingin bicara sesuatu Dinda?” Kulontarkan permohonan setelah berhasil mencegatnya di depan gerbang pesantren—ketika dia hendak berangkat kuliah.
“Apa?! Emang Kau siapaku?!” terkaku.
Tapi, kali ini bibirnya terkatup.
Ah... tetap saja, Dinda masih memandangku dengan angkuh—ekspresi yang selalu dia suguhkan padaku.
Dia bergeming, apa mungkin karena statusku yang bukan santri sepertinya?
Hei, begini-bigini aku rajin menseriusi pengajian pesantren melalui pengeras suara. Jelas sekali, karena jarak rumahku hanya sekitar 15 meter dari pesantrennya.
Kuamati gerak-geriknya, satu, dua menit dia menghentak kaki.
“Hei Dinda!! Tunggu!” berusaha kujajari langkah lebarnya. Dia begitu cepat, melesat di depanku.
“Aku suka Kau Dinda...!!!”
Oh idak, aku lepas kontrol. Malunya aku! Ah... biarlah, sudah terlanjur!
“Berhenti!” harapku dalam hati.
Ah, Dinda tak peduli, aku berlari. Dan, berhasil, mencegatnya lagi.
Apa boleh buat, ini saatnya pengakuan! Diterima atau ditolak akan kurasakan nanti. “Ak-ku suka Kau Dinda!” kuucap sambil terpejam—pengecut.
“Aku dah tahu!”, “Terlihat sekali sikap Kau yang over itu.”
Gelegaran ucapan-ucapannya, membuatku seolah tak percaya, “apakah itu benar Kau, Dinda?”
Kau ternyata menyimpan satu tempat atas sikap-sikapku di memorimu.
“Lalu! Kenapa Kau tak pedulikanku Dinda?!”
“Apa?! Emang Kau siapaku?!” lagi-lagi Dinda sukses menangkisku.
Oh... rasanya lunglai, entah kenapa? kali ini kalimat itu menusuk-nusuk hatiku. Rasanya ingin berlari, menuju ketinggian lalu kuteriak—”Dinda!!”
“Aarrrgghh!” aku geram sekali atas sikap sombongnya. Oke! Kuakui aku memang bukan siapa-siapanya. Kuatur napas dan emosi.
“Iya! Aku bukan siapa-siapamu.” Itu stok kata-kataku yang tersisa—pasrah.
“Kau tak berhak mengganggu hidupku! Kalau Kau serius cegat ortuku di rumah jangan mencegatku di depan gerbang!”
Ah... seperti ada tetesan embun yang jatuh tepat di hatiku. ♥♥♥



