Perlu untuk dibaca

Minggu, 11 September 2016

BUNGA-BUNGA DI ATAS AIR

Oleh : Kunti Zakiyah


“Hei, apa yang Kau lakukan di sini tiap sore?”
“....”
Tanyaku  menguap. Perempuan semampai, berambut ikal mayang dengan pakaian sederhana itu hanya diam. 
Sejak limabelas menit lampau dia sibuk dengan bunga-bunga apung, tak memedulikanku sedikit pun. Justru dia melesat pergi.
Apa-apaan dia. 
Tak punyakah perasaan? 
Atau, dia tengah mengidap pilu sepertiku?
Dan bodohnya, sampai hari ini, aku belum tahu nama bunga indah merah jambu yang mengapungdi atas air itu. Dan itu bukan teratai, aku yakin.
♥♥♥
Sore ini, lagi, kukayuh pedal sepeda perlahan. Melewati sawah-sawah basah, perkampungan, pepohonan dengan keadaan jalan yang rusak parah--kurasa ini sebab kerap dilalui truk kelebihan beban. Menuju tempat favorit, sebuah lahan sejuk dengan satu pohon besar, aliran air perbukitan, serta taman-taman air di sisi bangunan tua.
Lagi!
Kujumpai perempuan berambut ikal mayang tengah sibuk dengan bunga-bunga di atas air itu. 
Hampir dua mingguan ini aku melihatnya dan selama itu pula,  kuhabiskan sore dengan monoton—tanpa obrolan atau sekadar bertatap muka. Bahkan melihat wajahnya pun belum pernah—ya, dia selalu memunggungiku.

“Hei, apa yang sedang Kau lakukan?” cetusku hambar.
Tak ada suara hingga menit kedua.
“Aku bertanya padamu,” lanjutku.
Lagi!
Dia melesat pergi.
Kurasa, dia perempuan kuper yang tidak punya sopan santun.
Siapa perempuan itu? Mengapa baru belakangan ini aku menjumpainya dengan bunga-bunga yang belum kuketahui namanya? Hei mengapa tadi tak kutanya siapa namanya?
Ah, mengapa baru terpikir olehku?
Tak penting bagiku!
♥♥♥
Sore ini, hujan mengguyur. Dan kuputuskan untuk menghangatkan tubuh di bawah selimut sembari berbaur di dunia maya.
Kurasa, perempuan itu tak kan menilik bunga-bunga airnya. Hm, siapapun orangnya, pasti akan memilih tidur di bawah selimut hangat daripada berhujan-hujan demi sebuah bunga yang memang hidup di air.
Baru setengah jam berlalu, aku sudah bosan. 
Entah ada apa dengan otakku sehingga bunga-bunga indah itu  bertebaran pada kepala. Lebih tepatnya perempuan berambut ikal mayang nan angkuh itu. Hei, mengapa aku jadi begini? 
Tidak?!
♥♥♥

Sore ini, tak kujumpai perempuan berambut ikal mayang itu. Dan bunga-bunga di atas permukaan air yang sangat indah menyeretku untuk mendekat. 
Benar... ia sangat indah. Variasi putih dan merah mudanya begitu apik, pun tangkai daun yang mencuat jatuh di permukaan air dengan daun berbentuk lebar dan kedap air tertata rapi—sempurna. Pantas saja, perempuan berambut ikal mayang itu, betah berlama-lama memandang.
“Apa nama bunga ini?” 
“Siapa nama perempuan itu?” 
“Mengapa dia tak ada sore ini?” 
“Ke mana dia? 
“Pergikah?” 
“Sibukkah?” 
“Atau sakitkah?” 
“Ah, aku harap, esok sore dapat kujumpai.”

“Kamu sedang apa?” Nada bergetar kudengar agak samar. 
Sangat asing sekali suara itu.
Aku terpana beberapa lama saat menoleh dan langsung terperangkap oleh tatapan sepasang bola mata bulat dengan bulu hitam lentik di kelopaknya.
Dia....
Dia, perempuan berambut ikal mayang itu.  
“Kamu suka Padma juga?” suara asing tadi kudengar lagi.
“Padma..?”
“....”
Hei, sekarang aku tahu nama bunga yang sangat indah itu—Bunga Padma.
“Lotus maksudku, atau... Seroja.”
“Apa...?”
“Ah lupakan! Itu hanya padanan nama.”
“Oh....”
“Padma bunga yang hebat. Kamu tahu sendiri kan, dulu kolam air ini sangat kotor dan berlumpur. Tapi, ia bisa tumbuh meretas kekotoran dengan bunga yang indah, bahkan sangat indah menurutku.”
“....”
“Aku banyak belajar dari Padma.”
“Oh....”
“Mengapa Kamu tak berkomentar, bertanya atau berpendapat?”
“Ehm...,” mendadak, terkelu.
Aku merunduk, tak ada yang bisa aku ungkapkan sepertinya, perbendaharaan kata terkuras habis.
Satu, dua menit aku belum jua berkata-kata.
“Ehm...,” sembari kuangkat kepala perlahan.
Ah, perempuan berambut ikal mayang itu melesat pergi. 
Bodohnya! 
Bahkan aku belum tahu siapa namanya.♥♥♥


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Terima kasih telah berkomentar dengan sopan ...."