Kususuri koridor panjang. Berharap menarik tebaran jala yang kutebar karena memerangkap sosok berbingkai kerudung biru lebar. Berharap mendengar derap langkah menujuku. Berharap mendapat potongan senyum dan sapaan dari bidadari bermata jeli itu.
Ah! Tidak mungkin!
Itu semua hanya asa semu. Sekadar angan yang tengah berpesta dalam kepala. Ya... pesta tema ‘mengenangmu’—riuh rendah suara, gertakan marah, angkatan alis dan kening yang menghasilkan kerut aneh ketika muak dengan sikapku, serta semua kisah yang mensejarah.
Kau tahu?!
Kini episode kisah itu mengerumuni otak, meletup-letup, meledak, lalu termuntah sedikit demi sedikit.
♥♥♥
Kukerlingkan mata genit ke arahmu yang duduk jauh di area belakang. Kau tak acuh, nyaman dengan ‘angkuh’ yang kau prinsipkan atasku.
Aku sadar! Bukan begitu cara merayu. Banyak cara maskulin dan high class, tapi lagi-lagi aku terkapar dalam ketidakberdayaan—cara merayuku gagal!
Simpulannya dapat kuterka!
Sedahsyat apa pun caraku, kau tak kan pernah absen menyuguhkan keangkuhan. Maka, kucari jalan lain menuju ‘Roma’. Walau terjal, bersimbah onak dan aral, aku tak peduli. Melalui jalan asing menuju hatimu yang begitu beku. Jalan asing itu, teman akrabmu, yang sesungguhnya kumual melihatnya—betapa tidak?! Karena rekan eratmu itu selalu bergiat menjamah hatiku. Hati yang selalu kujaga dan hanya rela menukarkan separuhnya dengan hatimu, pujaan hatiku! Sangat ingin kubuat pengumuman jika kaulah ‘separuh aku’. Ya... seperti judul kidung yang dipopularkan grup band kesukaanmu.
Kumulai menebas rindang-rindang angkuhmu melalui jalan asing yang berevolusi menjadi jalan alternatif. Aku bisa mendekap hati yang merinduiku itu (jalan asing). Sering komunikasi, negosiasi bahkan berdiskusi—tentangmu. Semua mulus tanpa ada persengketaan darinya—karena peraturan inti ‘dilarang pacaran’ telah mengubur niatnya untuk menjadi lebih atasku—dia, Mba Lana.
Mbak?
Benar, walau umurku lebih tua dua bulan, harus tetap memanggilnya dengan ‘partikel penghormatan’ m.b.a—aturan baku pesantren salafku (mba dan kang).
“Kemana Mba Lentik?”
Kucetuskan penasaranku pada Mba Lana, ketika malam itu tak kudapati separuh hatiku. Aku begitu berharap tak kan ada jawab mengagetkan karena perasaanku tak tenang.
“Sakit,” jawabnya bertitik.
Desir sekujur arteri tak kalah mantap dengan desiran di daerah dada, sesak, ngilu. Aku diam, berpikir begitu dalam, pikiran tak sedap pun mengganggu bertubi-tubi.
“Tenang! Mba Lentik gapapa. Cuma demam biasa.”
Hanya? dia bilang ‘hanya’ betapa tak relanya aku, keadaan tak nyamanmu diremehkan.
Malam itu jua kumohon pada Mba Lana untuk menungguku berbelanja.
_____
Seperempat jam berlalu, kuhampiri dengan menenteng kantung plastik hitam di tangan kiri sedang bagian kanan memeluk kitab-kitab pelajaran.
“Aku titip untuk Mba Lentik!”
Dan tas plastik yang berukuran lebih kecil kuiklaskan untuk Mba Lana sebagai tanda terima kasih. Pun tak lupa kukirim sepotong doa dan sekarung ‘salam’.
♥♥♥
Aku bersyukur telah melihatmu membaur di kelas mengaji ‘awamil’—kelas sipir yang diperuntukan bagi para santri yang masih cethek ilmu atau bahasa halusnya ‘kelas dasar’—setingkat dengan SD bila dianalogikan dengan sekolah formal.
“Heh!! Kang Alam! Mana kitab-kitabku?!” todongmu sewaktu istirahat mengaji.
Aku memilih lari, gentar dengan taring bengismu.
“Nanti akan kukembalikan, sepulang mengaji!” janjiku dalam hati.
_____
“ALAM!! Apa yang Kamu lakukan?!!” teriakmu diselimuti amarah.
Aku meringis, lalu pergi—lagi-lagi gentar.
“Pecundang!” ejek teman-teman.
Aku tak peduli, yang pasti misi konyolku untuk menuliskan aneka kalimat di lembar-lembar kitabmu menuai sukses.
Ya, aku berharap kau akan selalu teringat aku ketika membuka kitab-kitab yang kau sampuli plastik bening itu. Dan aku yakin kau akan sering membukanya walau hanya dalam kurun setahun. Kitab itu bak pintu utama gurfah-mu yang setiap hari memang harus kau buka.
“Kok setahun, mengapa?”
Konsep yang kuutarakan pada teman sekamarku itu menuai kebingungan.
“Karena... aku akan menyemangatinya naik jurumiah tahun depan!”
“Sungguh mulia,” celetuk temanku.
♥♥♥
“Mba Lana! Titip ini untuk Mba Lentik!” pintaku suatu malam, tas plastik hitam berisi kado cantik kuamanahkan padanya.
“Beres!”
Semoga kejutan ultah unik itu akan membuatmu luluh, amin.
Sial!
Tak ada perkembangan.
Keangkuhanmu masih saja meraja. Apa kurang yang ku-sajen-kan? Memberimu contekan ketika imtihan, memberimu perhatian berlebihan, menyemangati-menagih hingga menyimak hafalan-hafalanmu—tentu! mau tak mau hafalanmu harus kusimak karena otakku yang superior ini, ustaz pengampu mengamanahiku ‘mbadali setoran minguan ba’da sorogan’.
Hei, aku tipe lelaki setia, tidaklah mudah bagiku mengagumi sebangsa Dewi Hawa selainmu. Aku masih berusaha, aku masih berdoa agar hati yang kau kunci dapat kubuka.
♥♥♥
Kutitipkan salam lewat teman sekamar. Karena aku telah begitu lelah dan kecewa menanti ‘salam’ darimu atas perihal sakitku yang sudah memasuki hari ketiga.
Aku membubuhi ‘nb’ pada salamku tatkala temanku hendak beranjak mengaji.
_____
“Kang Alam ini ada titipan.” Tas plastik warna putih susu diangsurkan padaku.
Kuamati kurir—pengantar ‘titipan’.
“Mengapa lelaki angkuh ini yang mengantarkannya?” gumamku sinis.
Ya, dia angkuh! Mentang-mentang sudah alfiyah tsani, tak peduli pada kami—rakyat jelata—yang kerap terpasung oleh kekreativan para sindikat preman para tukang pelanggar aturan.
♥♥♥
Suatu pagi—tepatnya setelah 5.256.000 menit dari malam itu, kau beriku bingkisan perpisahan—satu helai baju koko dan selembar kain sarung warna biru.
Kau bilang, “Semoga ini setimpal dengan apa-apa yang Kamu beri padaku, terima kasih.”
Ternyata aku telah membuatmu bak makan buah simalakama—jika tak balas budi kau akan selalu berhutang budi tapi jika membalas, kau akan dikira telah menerima inginku untuk bertukar separuh hati.
Aku baru menyadari pikiranmu yang seide denganku. Sehingga kau putuskan mengabarkan rencana pernikahanmu dengan Si Lelaki Angkuh Alfiyah Tsani itu. Huh, menjengkelkan!
♥♥♥
“Siapa suruh kamu suka daun tua?” ledek teman sekamar tatkala mendapatiku tengah berkutat dengan kegalauan.
“Hei bukannya masih daun muda...?! Kan baru 21 tahun, cuman Alam masih berupa tunas.” ♥♥♥
Melasi banget itu cowoknya jan
BalasHapusBaca cerpen ini, seakan-akan aku menjadi santri.
BalasHapus