Kunti zakiyah
Kamis, 08 September 2016
Jan gan-j angan
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Semai Bersemi binti Basri dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai.”
“Bagaimana? Sah?”
“Sah…!!” suara-suara terdengar hampir bersamaan.
“Alhamdulillah…!”
Seseorang menepuk pundakku, memecah semua lamunan pernikahan yang tengah bermain indah dalam kepala.
“Dah hampir nyampe ayo turun!”
Aku mengimitasi gerakannya, berdiri dari kursi penumpang, berjalan perlahan, hingga akhirnya menjejakkan kaki di tepian jalan. Kami pun berpisah kemudian, di pertigaan.
Aku menapaki jalanan yang riang karena deru larian anak-anak kecil yang begitu menggemaskan. Saat itu matahari tak tinggi lagi, bayanganku sudah lebih panjang dari badan.
Aku tengah melangkah pelan tatkala suara seorang ibu mencekatku.
“Mba, kok nyante aja? Itu di rumah kamu rame orang loh!”
Aku celingukan, ekspresi kalut kusuguhkan.
“Ada apa ya Bu emangnya?”
“Ah Mba, cepetan pulang. Kata tetangga sebelah rumah Emba, ada laki-laki yang berniat ngelamar.”
Alisku bertaut, “Ngelamar? Dilamar? Aku dilamar? Siapa?!”
Belum habis pertanyaanku ibu itu sudah menghilang dari pandangan.
♥♥♥
“Kok baru pulang?!” tanya ibu ketika aku sibuk mengganti pakaian kerjaku dengan kebaya warna keemasan.
Ternyata ibu telah mengetahui kepulanganku karena mendengar derit pintu dapur yang kubuka lima menit lalu.
Aku pun tersenyum, yang ada di kepalaku hanya skenario lamaran. Dua tahun lalu adek perempuanku dilamar mendadak, sekarang aku pun juga dilamar mendadak. Ah... senangnya. Akhirnya bidadara datang juga, aku terkekeh dalam pikiran.
“Kamu yakin pakai baju itu?!”
“Kan aku mau dilamar Ibu?! Iya kan?!” aku masih tersenyum riang.
“Tiap orang punya jalan cerita sendiri, masak iya?! Empat anak perawan Ibu dilamar mendadak semua?!”
“Maksudnya?”
Aku menghentikan aktivitas. Menoleh ke arah ibu yang ternyata tengah bersama adek keduaku—dia berpakaian kebaya.
“Jangan-jangan?!Aku salah terka?! Oh....”
Aku terduduk lesu di ujung ranjang.
♥♥♥
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Semai Bersemi binti Basri dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai.”
Seseorang menepuk pundakku, menumpahkan semua episode pernikahan yang sedang bergulir indah dalam khayalan.
“Semai?! Enam bulan lagi aku merid....”
“Ha!!”
Aku tak bisa berkata apa pun, kini aku sendiri lagi, dia satu-satunya teman yang jomblo akurat dengan usia yang sebaya—telah dijemput pangerannya.
Kapan giliranku? Tiga puluh tahun! Tak muda lagi. Sepantasnya sudah menimang satu anak lah atau bahkan dua anak. Tapi aku? Masih saja menjalani hidup yang monoton—cerita yang berbeda dengan saudara-saudara kandungku, umur 22 ibu nikah, umur 25 adek pertamaku nikah, sekarang giliran adek keduaku 24 akan menikah, aku?!
Ah, pikiran-pikiran negatif itu mengapa tak mau lepas dari otak.
“Mai! Semai!”
Dan temanku itu menepuk pundakku, menghamburkan semua pikiran kalut bin jelek.
“Dah hampir sampe Mai! Tapi....”
Penglihatannya terlempar keluar, memandang keruh rinai hujan.
“Ayo turun!!” aku menyeru.
Kali ini dia mengimitasi gerakku, berdiri dari kursi penumpang, berjalan perlahan, hingga akhirnya menjejakkan kaki di tepian jalan.
Kami tak berpisah, melainkan berteduh di masjid besar pertigaan—berteduh.
_____
Kami baru menapaki pelataran masjid ketika mataku menjerat seorang pemuda mencurigakan, berjalan mengendap menuju kotak amal.
“Hei, jangan-jangan?”
Kukode teman di sebelahku—mencoletnya. Pun kami mengamati detail gerak langkahnya.
“Hei, mau ngapain?!”
Pemuda itu terkesiap, menoleh ke arah kami dengan roman syok.
“Oh, ga ngapa-ngapain Mba.”
“Kok?!” temanku mulai menginterogasi.
“Cuma, Cuma...?”
“Cuma apa?!”
“Cuma sedekah Mba, benar!”
“Sedekah?! Mengendap-endap?” “Hah?!”
Ekor mataku tertuju pada kotak ukuran besar transparan, sembari mendengar obrolan mereka. Aku melongo, ketika menangkap uang warna kemerahan.
“Sepuluh ribu atau seratus ribukah?”
“Aih, itu, seratus ribu.”
“Maksud saya biar ga ada yang tau, itu aja Mba.” Suara pemuda itu melemah, lalu merundukkan kepala.
“Kamu sedekah segitu banyaknya?!” aku turut bersuara.
Pemuda itu mengangguk, “Doakan saya Mba, biar cepat dapat jodoh! Dan hanya itu cara yang bisa saya lakukan.”
Kami mengoper pandang. Aku heran, bingung sekaligus kagum.
♥♥♥
Aku tengah melangkah malas tatkala suara seorang ibu muda mengagetkanku.
“Mba ada pemuda tampan di rumah Mba. Kayaknya ada yang mau di lamar nih?!” ibu muda itu menggodaku.
Kubalas kalimat itu dengan sepotong senyum termanis.
Ya, Kali ini aku tak akan cepat besar rasa, karena ujung-ujungnya selalu kecewa. Paling-paling adek ketigaku yang akan dilamar.
Ah, lama-lama predikat perawan tua tak sanggup lagi ku pikul. Bisa-bisa benteng kecuekan rubuh karena: pikiran-pikiran tak mutu selalu menggelantung bak kutu, bisik-bisik tetangga kian lama berevolusi menjadi berisik.
“Sabar! Sabar!”
Aku berjalan melipir lewat samping rumah, mengintip siapa pemuda yang tengah bertandang.
“Hah!!”
Seketika denyut jantungku seakan terkena asma—tersengal-sengal.
“Mimpikah aku?Pemuda itu yang sedekah di masjid dulu?” “Jangan-jangan,” tanpa kusadari pipiku bersemu merah, dan desiran dada terasa lain dari biasanya.
Aku bergegas ke tujuan, membuka pintu belakang yang menimbulkan derit khas. Menuju kamar ukuran empat kali enam. Mengganti pakaian kerja dengan kebaya warna keemasan.
“Sudah pulang Mba?!” kali ini suara adek ketigaku terdengar.
Kutolehkan kepala dan mendapatinya berpakaian kebaya.
“Ah, jangan-jangan...?”
“Aku..., aku salah terka?!”♥♥♥
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
Siapa nih inspirasi ceritanya? Mirip ama ....
Posting Komentar