Perlu untuk dibaca

Minggu, 28 Februari 2021

Agar Cinta 'Awet Muda'


(Trik Memahami Pasangan)

oleh: Kunti Zakiyah



"Cinta? Awet muda?!"

"Mau. . . ."


Well, well, well, sebelum melangkah pada kupasan judul di atas. Kita korek-korek lagi yuk ada 'makhluk' apa di balik pasangan? Dan…. Waw! Kita pasti udah tau semua, yup, hanya lima huruf C.I.N.T.A. Cinta, anugrah terajaib bagi manusia.

Ajaib?

Tentu, cause reaksi kimiawi hormon itu, seseorang bisa menjatuhkan pilihan pada satu hati di mana berserakan hati-hati lain di sekitarnya. Mampu menstimulus mata untuk menangis dan membuat bibir untuk tersenyum atau sekadar meringis. 

Hm, lalu, apa itu cinta? 

Banyak sekali definisi cinta di sekitar kita namun, di sini kita angkat penjelasan Shodiq (200:27) aja yah? Menurut survei beliau kebanyakan orang berargumen, cinta identik dengan nafsu. Bahkan mereka berpendapat cinta itu tak bisa terlepas atau sengaja dinafikan dari nafsu. Tanpa nafsu cinta itu akan menjadi hambar dan mengurangi rasa dari cinta tersebut. Sebaliknya, nafsu tanpa cintaakan semakin menambah rasa menjadi semakin pahit.

Tentu itu hanya argumen, ada beragam konsep di masyarakat, cinta yang begitu abstrak membuat sulit didekati secara ilmiah, inilah yang membuat cinta begitu ajaib dan tentu saja indah.

Dan banyak dari kita nenge'cap' diri sendiri dengan seseorang sebagai sepasang kekasih--yang tujuan puncaknya adalah ucapan ankahtu dan qobiltu (aku nikahkan dan aku terima).

Akhirnya, bagaimanapun model atau jenis-jenis pasangan tentu menuntut kita untuk mengawetkannya—agar cinta 'awet muda'. Ada berbagai cara untuk mengawetmudakan atau mensejatikan cinta bersama pasangan. 

Salah satunya tersirat dalam quote anonim menarik yang saya ingat "karena pernikahan bukanlah berusaha mencari pasangan yang cocok bagi kita, melainkan kita berusaha menjadi pasangan yang cocok bagi sesiapapun dia". Jelas sekali, bahwa kita kudu mengadaptasikan diri secocok mungkin dengan pasangan.

Ya, selain komitmen untuk saling setia faktor penting lainnya adalah memahami pasangan kita (yang terdiri dari berbagai aspek termasuk menerima kekurangan). Hal itu perlu agar masa masa sulit mampu dilewati dengan bijak dan dewasa.

Adapun menurut Boldsky dalam Destriyana (Kompas:2012) ada lima cara memahami pasangan.

1. Jangan Bereaksi Spontan!

Ini dimaksudkan agar kita punya waktu untuk merenungkan topik pembicaraan.

2. Sedikik Bicara dan Lebih Banyak Memerhatikan

Karena dengan begitu kita dapat menghabiskan lebih banyak waktu untuk mendengarkan

pasangan kita. So, kita pun bisa mengenalnya dengan lebih baik daripada sebelumnya.

3. Tahu Apa yang Disukai dan Tidak Disukai

Sehingga kita mampu memprediksi suasana hati pasangan bahkan menebak isi hatinya.

4. Membaca Bahasa Tubuh

Ini menuntun kita untuk menemukan apa yang dipikirkannya. Sebab, bahasa tubuh dapat

menunjukkan segalanya.

5. Mengetahui Pemicu Emosi—Senang-Sedih

Dengan hal tersebut, kita dapat menemukan cara untuk membahagiakan pasangan dan

dapat menghindari 'apa' yang memicu kemarahan.


Perenungan Abul Atha' (2005:181) tak kalah hebat, "...kita harus menyadari tanggung jawabnya masing-masing terhadap pasangan.... Jangan mencari-cari kesalahan pasangan."

Sesungguhnya ada banyak hal yang dapat dilakukan agar cinta tetap langgeng. Dan yang harus kita prinsipkan bersama adalah memiliki landasan agama yang kokoh. Sehingga, seterjal apapun rintangan, dapat kita taklukkan dengan keimanan kita. Why? Karena ada kekuatan Maha Besar yang akan membimbing langkah kita. 

Pastinya, orang-orang beriman 'kokoh' akan beretika baik dan waspada terhadap akhlak yang buruk (menurut Mazhahiri [2002:111] akhlak yang buruk adalah kondisi-kondisi yang muncul pada pribadi, sehingga dia tampak bermuka masam dan tidak sabar, sering marah-marah dan berkata buruk kepada pasangannya, memindahkan keruwetan ranah lain ke dalam hubungannya, sehingga suasana menjadi dingin dan tegang).

Lalu apa yang terjadi pabila kita memprioritaskan ego pribadi tanpa mau memahami pasangan?

Yap, pastinya iklim kasih sayang akan hilang, melukai perasaan, timbul perselisihan, tak jarang berujung pada sesuatu yang ekstrem--perpisahan. Itu semua bukanlah cita-cita, karena jika

'kejadian' berarti kita telah gagal menjalin hubungan.

Namun sebaliknya, ketika kita mampu memahami pasangan dan menjadi pribadi yang cocok bagi pasangan kita. Hm, sengala yang indah terhampar di depan mata, hidup bahasia, senyum selalu ada, pun seabrek persoalan krusial mampu kita lewati bersama pasangan kita. Bahkan dapat menjadi kekuatan yang luar biasa yang efeknya cetar membahana. Nah, kalau hal ini seratus persen adalah cita-cita tiap pasangan.

Sekali lagi, rasa cinta adalah kekuatan yang luar biasa. Tapi sepertinya tak perlu berpanjang lebar lagi, karena kita semua, pasti telah banyak mengetahui dahsyatnya efek cinta.

Pengerucutannya cinta adalah sumber 'energi' hidup manusia. Tidak percaya? Renungkan saja!

Pun telah banyak fakta kehidupan bertema cinta--contoh boomingnya perjalanan kisah romantik B.J Habibie dan Ainun yang bikin kagum dan pengen.

Itulah cinta, begitu ajaib. Maka, yuk kita sejarahkan kisah cinta sejati ala kita.






referensi :

-Abul Atha', Khalil, Nazmi. 2005. Risaalatu ilal Muahaabbaini minasy Syibaab (Menuntun Cinta Menuju Surga). Terjemahan oleh Syafi'i Masykur. Yogyakarta:Hikam Pustaka.

-Mazhahiri, Husain. 2002. Tarbiyyah ath-thifl fi ar-ru'yah al-islamiyyah (Pintar Mendidik Anak cetakan V). Terjemahan oleh Abdillah Assegaf & Miqdad Turkan. Jakarta:Lentera.

-Sodiq, Burhan. 2007. Ya Alloh Aku Jatuh Cinta! cetakan ke IV. Sukoharjo:Samudera.

-Http://www.merdeka.com/2013/04/27/gaya/5cara-memahami-isi-hati-pasangan.html


Jumat, 26 Februari 2021

GERAKAN JAJAH NUSANTARA


(Mewujudkan Pelestarian Kebudayaan dan Pengembangan Bahasa)


.

latepost


Napak tilas, di gmail. Bertahun lalu pernah kirim ke media lokal-janjian ma tetangga yang sehobi, setelah terbit, kita beli korannya lalu kita kirim ke Kemdikbud, beruntung Lhieza Yuvita Sikhu jadi salah satu pemenangnya-menyesalnya, kenapa dulu gak beli dua ya korannya? Kan, satunya bisa buat koleksi, hihihi .....



Pernah melihat logat "ngapak" jadi bahan tertawaan di televisi? Pernah dengar Urang Kenekes (suku baduy) diperkenalkan dengan sekolah formal? Penah betemu Suku Dani berkoteka? 

Tidak penting apa jawabannya, setiap kita memiliki hak asasi prerogatif untuk menjawab serta mengomentarinya, bukan?

Bandingkan dengan manusia-manusia Indonesia di sepanjang nusantara yang dengan bangga memakai bikini ke pantai "biar seperti orang eropa," katanya. Atau pernah melihat papan iklan berbahasa Inggris? Nama perumahan, nama pusat perbelanjaan, nama restoran bahkan nama merk dagang (lokal/nasional), kebarat-baratan? Pernah? Sekali lagi, tidak penting apa jawabannya, setiap kita memiliki hak asasi prerogatif untuk menjawab serta mengomentarinya, bukan? 


Menyoal telah terintegrasinya bahasa internasional dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bolehlah bila niat kita agar dapat bersaing di MEA atau di kancah-kancah dunia, namun tidak seharusnya berlebihan, kan? 


Bukan salah bumi pertiwi atau salah bunda mengandung, jikalau era kekinian didominasi kebudayaan dan bahasa dari luar nusantara. Pun tidak berlebihan bila kita mengatakan bahwa sekarang kita tengah dijajah, ya, seperti ada gerakan jajah nusantara yang mulai meringsek ke berbagai aspek.

Lalu siapa yang layak dipersalahkan? Sejatinya, tak akan ada habisnya apabila kita saling menyalahkan. Saatnya mencari dan mengaplikasikan solusi atas keadaan nusantara kita kini. 

Dari Sabang sampai Merauke mengandung ragam kebudayaan, corak bahasa serta dialek yang terbentuk dengan sendirinya. Maka sebagai rakyat Indonesia penganut "Ketuhanan Yang Maha Esa" haruslah mensyukuri "aset" nusantara yang heterogen ini dengan mewujudkan pelestarian kebudayaan dan pengembangan bahasa (baik itu bahasa dan sastra Indonesia maupun bahasa daerah). 


Upaya-upaya perwujudanpun ada banyak ragam yang dapat dilakukan oleh tiap-tiap elemen masyarakat Indonesia. Misal para awam dengan pola asuh dan pembiasaannya, para pengajar dengan peningkatan mutu pendidikannya, para pejabat pemerintahan dengan "aturan-aturan main" yang telah dan akan dibuatnya.

Kita bisa sedikit belajar dari  Lembah Indus yang mampu mempertahankan tradisi yang sudah ada sejak zaman dahulu karena bahkan menyebarluaskan ke Asia (sebagai contoh ke Indonesia melalui film-film dan serial Bolywood-nya). Itu terjadi sebab sejak usia dini, telah diajari tentang peran dan kedudukan mereka dalam masyarakat dan pembiasaan pun berlanjut seumur hidup, sehingga budaya mereka masih kental hingga sekarang. Begitu pula dengan bahasa mereka yang mampu memdunia lewat lagu-lagu. 

Akhirnya sudah saatnya kita melestarikan pula bahasa kita. Pun kita (tak terkecuali pemerintah) wajib: bangga, mengembangkan, membina, melindungi  dan sekali lagi- melestarikan bahasa kita baik itu bahasa Indonesia maupun bahasa-bahasa daerah dan budaya masing-masing seantero nusantara agar tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. 


Bertitik dari sudut tersebut, seyogyanya aturan-aturan yang ada segera difungsionalkan, mulai dari perihal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang menginstruksikan, seluruh sekolah untuk menerapkan tiga bahasa. Yakni bahasa Indonesia, Inggris dan daerah. Walaupun status bahasa daerah (serta budaya) di kalangan masyarakat pada umumnya bagai langit dan bumi bila disandingkan dengan bahasa Inggris namun bila kita mampu mengubah pola pikir maka bahasa daerah yang "tak akan ada matinya" menjadi lebih menawan dan berkelas. Siapa lagi yang wajib dan mampu mewujudkan pelestarian kebudayaan dan pengembangan bahasa jika bukan kita? Maka mulailah dari sekarang untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar, tidak gengsi berbahasa daerah dan dengan bangga mengamalkan budaya-budaya ketimuran yang sesungguhnya lebih sesuai dan nyaman bagi kita serta kemaslahatan  nusantara.

 Agen perubahan yang tak kalah hebatnya adalah keluarga dan lingkungan sekitar. Pola asuh, pola pendidikan bahkan pola pembiasaan. Bagaimana cara bersikap, cara berbusana, cara bertutur kata dan berbahasa dan cara agar bahasa asli Indonesia dan  bahasa daerah serta kebudayaan yang ada termaktub dalam tiap individu. Semua dapat kita lakukan pada lingkup tersebut karena, pada umumnya pola pikir terbentuk dan berakar dari keluarga dan lingkungan sekitar. 


Ya, sebagai pewaris kemerdekaan tidak etis jikalau kita tetap berpangku tangan dan menutup telinga akan keadaan nusantara yang dijajah dengan aneka budaya dan bahasa seperti bolywood, holywood dan lainnya. Saatnya kita eksiskan wayang kulit, reog, ngapak dan lain-lainnya. Dimulai dari diri sendiri dan saat ini. Apapun itu caranya, tak perlu ragu ataupun malu, lakukan jangan hanya disuarakan. Mungkin ide ekstrimis seperti pemboikotan atau setidaknya meminoritaskan film-film, drama, serial dan acara-acara "berbalut" luar negeri menjadi cara luhur guna membendung arus gerakan jajah nusantara.


Jadi, biarkan Suku berkoteka, mengekploitasi budaya mereka sendiri walau zaman telah kian menua.

Jadi, tetap dukung Urang Kenekes (suku baduy) hidup dengan kekentalan budaya dan bahasa asli mereka.

Jadi, walau pahit, lebih baik logat "ngapak" jadi bahan tertawaan di televisi daripada tidak dikenal sama sekali (seperti motto mereka, "ora ngapak ora kpenak"). 

Karena yang demikian merupakan salah satu ragam cara agar mampu mewujudkan pelestarian kebudayaan dan pengembangan bahasa. Menjadi cara jeli sebuah bahasa dan budaya tetap lestari.


oleh : Kunti Zakiyah, S.Pd. I. Tanjungmeru, Kutowinangun, Kebumen. 

April 2016 (latepost)

Rabu, 10 Februari 2021

PELELEH KESOMBANGAN ITU BERNAMA SIYAM

 PELELEH KESOMBANGAN ITU BERNAMA SIYAM

oleh: Kunti Zakiyah


Sebenarnya apa itu siyam? Ada apa dengan kesombongan? Ada apa dengan siyam? Lalu, adakah hubungan kesombongan dengan siyam?


Siyam itu ...  bahasa populernya ialah puasa, merupakan ibadah yang khusus (karena hanya si orang yang berpuasa dan Allah saja yang tahu tentang niat, keikhlasan dan kesungguhan si pelaku puasa tadi).

Dalam Islam, siyam sendiri ada dua jenis yaitu puasa sunah (ada beberapa macam) dan puasa wajib. Dan Alhamdulillah-nya, kita dapat dipertemukan kembali dengan Bulan Ramadhan-bulan yang paling mulia dari sebelas bulan lainnya, yang secara otomatis kita menjadi wajib menjalani puasa (siyam).

Bulan Ramadhan memang istimewa, rata-rata umat muslim pun tahu keutamaan-keutamaan ajaib yang terkandung permanen pada bulan tersebut. Lantas, bagaimana dengan siyam pada sebelas bulan lainnya? Tentu saja mengandung keutamaan hanya saja kadarnya jelas berbeda dengan siyam di Bulan Ramadhan, bukan?


Ada apa dengan kesombongan ....

Sejatinya kita semua pernah berlaku sombong, entah itu dulu atau sekarang, entah itu sering maupun jarang, entah itu kecil ataupun besar, entah itu disengaja-entah itu tanpa disengaja. Ya, walaupun kita tahu itu tercela, tapi, namanya juga manusia.

 Astaghfirullah ... semoga kita dijauhkan dari bersikap apalagi bersifat sombong, amiin ....

Karena siapapun kita, pasti merasa tak suka saat disombongi. Walau tidak sedikit yang berakhir dengan adu kesombongan.

Merasa lebih menarik pongah, merasa lebih pintar congkak, merasa lebih kaya terindikasi pamer, sombong dkk. Seakan lupa bahwa diatas langit masih ada langit.

Jauhkan ... jauhkan ... jauhkah sikap begitu dari kita.

Namun kenyataan, tak pernah semudah teori, tak segampang ekspektasi diri, tak seindah kisah-kisah hikmah para alim ulama wira'i. Sesungguhnya memang begitulah manusia, ada setan dimana-mana, ada lingkungan dan pengaruh yang tak selalu 'lurus' dan langkah kehidupan yang kerap tak mulus, keadaan iman yang fluktuatif, membuat kita sedikit-banyak, tanpa disengaja dan tiba-tiba merasa 'lebih'.

Karena hidup itu susah-susah gampang, maka kita perlu ilmu, membuka hati dan pikiran guna move on dari segala hal yang buruk-buruk.


Ada apa dengan siyam ....

Kita bererbicara lagi mengenai siyam, siyam yang secara umum(baik yang sunah maupun wajib) memiliki banyak fungsi bagi pelaku siyam. Yangmana fungsi lahiriah dan batiniah (fisik dan mental) itu sendiri sudah banyak kita ketahui, kan?


Lalu, adakah hubungan antara kesombongan dengan siyam ....

Seperti fungsi siyam bagi fisik, siyam pula berfungsi bagi mental, kan? Lalu sadarkah kita bahwa siyam akan berfungsi untuk menghilangkan kesombongan? Pasti banyak dari kita pun sudah banyak yang tahu. Namun, tak ada salahnya, kan ... untuk sekadar share?

Kesombongan berarti mengandung perasaan 'lebih', merasa diri yang 'paling', merasa jadi pribadi yang 'maha'. Namun saat ber-siyam akan mengandung perasaan 'taat kepada', akan merasa diri 'tunduk'(dengan aturan puasa), akan merasa jadi pribadi yang 'lemah'. Itulah hubungan yang terjadi saat kesombongan bertemu siyam. Karena apa-apa yang terjadi termasuk ketentuan tentang perintah dan larangan pasti mengandung faedah agar kita dapat memetik hikmah dari sejala ketentuan-Nya.

Semoga siyam kita selalu diterima Allah SWT, kita dapatkan manfaat fisik, mental dan keamanfaatan bagi derajat kita di surga. Amiin Ya Robbal 'alamin.


Penulis adalah pecinta PAI